Langsung ke konten utama

Review Film Man from Earth


Review Film Man from Earth

(sumber gambar: https://www.indiewire.com)

Sinopsis: Jhon Oldman adalah seorang dosen yang sedang mempersiapkan kepindahan rumah, kemudian teman-temannya datang untuk merayakan pesta perpisahan. Teman-teman dari Jhon merupakan para ilmuwan di berbagai bidang seperti, Dan seorang antropolog, Harry seorang biologis, Edith pakar sejarah seni juga Kristen yang taat, Sandy seorang ahli sejarah yang jatuh cinta pada Jhon, Art seorang Arkeolog yang datang bersama muridnya yaitu Linda. Lalu ditengah-tengah cerita muncul tokoh Will seorang psikolog. Pesta pun dimulai mereka mengobrol dengan santai sampai pada akhirnya Jhon menceritakan bahwa dia adalah manusia yang hidup selama 14000 tahun dan termasuk manusia goa Cro-Magnon. Hal tersebut membuatnya terus berpindah-pindah selama 10 tahun sekali agar orang-orang tidak akan menyadari bahwa Jhon tidak bisa bertambah tua. Topik yang awalnya dianggap hanya sebuah lelucon kemudian berubah menjadi perbincangan serius dan dieksplorasi dari berbagai  sudut pandang keilmuwan.

Sutradara: Richard Schenkman

Pemeran:
  • ·         David Lee Smith sebagai Jhon Oldman
  •        Tony Todd sebagai Dan
  • ·         Jhon Billingsley sebagai Harry
  • ·         Ellen Crawford sebagai Edith
  • ·         Annika Peterson sebagai Sandy
  • ·         William Katt sebagai Art
  • ·         Alexis Thorpe sebagai Linda
  • ·         Richard Riehle sebagai Will


Review Film:

Film dibuka dengan pemandangan yang sering saya lihat di film-film lama. Dengan gambar yang terlihat seperti film tahun 90-an  cukup menarik perhatian saya untuk tetap menonton. Di menit pertama, dialog antar pemain masih terdengar santai dan biasa saja membuat saya ragu bahwa akan menuntaskan film ini sampai akhir, skeptis itulah kata yang cocok seperti, “Bisa gak ya nonton film ini sampai tamat? Nonton film-film Marvels aja yang kata orang seru malah bikin aku ngantuk sampe tidur, apalagi nonton film kayak gini?!” 

Durasi film terus berjalan, dialog masih tetap pada porsi yang “biasa saja”, sebenernya tanpa disadari dialog tersebut merupakan kunci dari inti/maksud film ini seperti lukisan Van Gogh dan Burin yang merupakan alat pahat dijaman paleolitik. Sampai akhirnya Jhon bertanya mengenai, bagaimana jika manusia jaman paleolitik masih bisa hidup sampai sekarang. Tentu saja pertanyaan tersebut membuat Jhon terlihat konyol dihadapan temannya yang merupakan para ilmuwan, tetapi mereka tetap melanjutkan pembicaraan masih dengan topik tersebut.

Keraguan yang sempat saya rasakan ketika menonton film ini berubah menjadi rasa penasaran karena dialog antar tokoh yang begitu magis membuat saya secara intens menikmati setiap percakapan diantara mereka, terutama Jhon yang mencoba menjelaskan bahwa dia merupakan manusia yang hidup selama 14000 tahun dengan gesture yang meyakinkan juga penjelasan yang sangat detail mengenai keadaan geografis dijaman itu. Sampai pada titik dimana saya merasa sudah terbawa atmosfer dari film tersebut, seperti ingin memecahkan sebuah teka-teki.

Film man from earth membuat pikiran saya terbuka mengenai film yang bagus dan berkualitas ternyata tidak harus dengan efek CGI, tidak harus dengan aktor dan aktris terkenal, tidak harus menggunakan tempat dengan pemandangan yang menakjubkan. Film ini sukses dengan kualitas narasi yang begitu magis, plot yang unik (tidak terbaca), adegan demi adegan mengalir seiring dengan percakapan antar tokoh di sebuah rumah dengan satu sofa dan perapian diiringi musik Beethoven 7th Symphony.

Menurut saya ada keterkaitan antara film man from earth dengan public speaking, yaitu terletak pada narasi yang ada di film ini, juga penuturan Jhon sebagai komunikator yang sangat mampu membawa teman-temannya terpengaruh dengan apa yang dia ceritakan, dilihat dari cara Jhon menjelaskan hal “aneh” dengan gesture dan mimik yang meyakinkan ditambah penyampain pesan yang sangat detail dan mengundang rasa penasaran teman-temannya, termasuk saya sebagai penonton. Poin-poin tersebut bisa dibilang sebagai bekal bagi setiap orang yang ingin menjadi seorang public speaker. Dari film ini kita jadi tahu bahwa seorang public speaker tidak hanya pandai berbicara, lebih dari itu mereka harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dengan berbagai cara, juga mampu memposisikan diri dengan pendengarnya. Seperti yang diperlihatkan Jhon di film ini, dia menjelaskan topik tersebut dengan sudut pandang dari berbagai ilmu, menyesuaikan diri dengan teman-temanya yang mereka adalah para ilmuwan, dengan cara itu dia berhasil mempengaruhi teman-temannya untuk percaya dengan apa yang ia jelaskan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Orange: Wattpad jadi dunia baru berjuta novel gratis (Sumber gambar: http://liezeneven.com) Buat kalian yang punya hobi baca novel pasti udah gak asing lagi sama platform gratis bernama wattpad? Tapi, mungkin buat kalian yang   gak terlalu suka baca novel (khususnya novel remaja) pasti masih bingung sebenernya, “Apa sih wattpad?” Wattpad itu salah satu platform  buat para penulis dan pembaca dalam menikmati   ataupun membuat karya tulis secara gratis. Banyak banget karya-karya yang bisa kalian nikmatin di wattpad, mulai dari cerita pendek, novel, puisi, dan artikel. Kebanyakan para penulis pengen memublikasikan novelnya dengan cover yang bagus dan mampu menggambarkan isi dari ceritanya, tetapi mereka   dibatasi oleh ketidakmampuan dalam hal membuat desain cover.   Maka, aplikasi yang sering disebut “dunia orange” oleh pengggunanya ini gak cuma memberikan keuntungan buat kalian yang punya hobi nulis aja loh! Tetapi wattpad juga bisa...